Tags

, ,

pendidikan karakter

setiap dosen pasti telah merasakan atau melawati masa dimana suka dan duka menjadi mahasiswa..

apakah itu dalam mengahadapi mata kuliah pada saat proses belajar mengajar ataupun diluar kelas yaitu saat
mengerjakan segala bentuk tugas yang telah diberikan dengan berbagai bentuk ragam tujuan dan kesulitan yang ditimbulkannya..

nah permasalahannya sekarang adalah apakah setiap generasi itu akan merasakan hal yang sama??
maka itu hal yang perlu dikaji lebih jauh,, bahwa setiap orang tidak bsa mendustai umurnya dan pengalamannya serta bagaimana ia menghadapi permasalahannya sendiri.
karena ketika wadah sudah berbeda walaupun masih dalam bejana yang sama maka hal yang dihadapi juga sudah berbeda..
membiarkan setiap wadah dalam bejana itu tersisi sesuai dengan bentuk dan ragam jenis penampungnya itu lebh baik dan menjaga agar tidak tumpah dan tetap dalam bejana itu lebh baik..

kontrol hirarki yang selalu benar hanya ada dalam struktur hirarki kemiliteran.. dimana pelatih tidak akan memberikan kesalahan., dan kalaupun salah maka bawahan tidak berhak untuk protes.
karena jalurnya adalah perintah bukan kompromi..sekali perintah turun dari atasan atau pelatih.. maka yang bisa membatalkannya hanya atasan itu sediri atau mati..

nah,, apakah dalam pendidikan akademik terutama dalam jenjang pendidikan perguruan tinggi itu adalah sistem hirarki militer?
apakah dosen selalu benar??
ataukah senior selalu benar??

jawabannya bisa beragam..
kecuali 1 yang pasti,, setiap pikiran yang logis dan dilandasi dengan dasar yang masuk akal maka semua pendapat bisa dibantahkan walau seorang profesor sekalipun dibantah oleh seorang mahasiswa..
karena budaya diskusi dan menjunjung tinggi kebenaran itulah budaya akademik..yang menuntut kebebasan seorang mahasiswa dalam berpendapat..
jika berpendapat dan berkreasi sudah di belenggu maka itu mungkin telah terjadi yang tua masih merasa muda..
atau bisa jadi para penentu kebijakan kampus tidak ada lagi kebenaran yang ada kecuali dari yang maha kuasa dan dari mereka sendiri..

tidak terbukanya ruang dskusi dan jalan tengah itulah awal dari kebenaran semu dan budaya diskusi semu yang telah didik dikapus oleh para tenaga pendidik itu sendiri..

ya, kebenaran semu..
karena menganggap semua peserta didik atau mahasiswa itu adalah anak ingusan yang tidak pandai berbuat apapun..

ingat,!
budaya diskusi itu dimulai dari pendidik dan peserta didik.. kalaulah hanya sebatas dalam ruang kelas,, maka selesai jika sudah dluar kelas..
jika itu terkait perkembangan mahasiswa dan kegiatan mahasiswa,, masih juga terjadi kebenaran semu sepeti itu maka anak muda itu akan menjadi
manusia penurut yang tdak bisa berfikir kreatif dalam menghadapi masalah…
karena skill sosialisasi itu bukanlah dari tumpukan tugas segunung,.karena itu hanya membuat orang kutu buku..sehiingga ketika terjun ke masyarakat akan menjadi gatal dan
alergi bagi orang banyak sebab tidak bisa sosialisasi karena ia telah menjadi kutu selama kuliahnya..

nah,, pertanyaannya apakah akan menciptakan kutu buku atau manusia ..
akan mencipatkan manusia kreatif atau hanya sekedar ingin mengutuki kebodahan mereka..
atau hanya sekedar berkata,”pada zaman saya tidak begini,, anak sekarang kenapa begini.”

kebenaran semu,, keadilan semu,, penciptaan karakter manusia ideal yang semu…